MI Iskandar Sulaiman melaksanakan kegiatan SAHABAT KBC (Sistem Analisis Humanis Berbasis Transparansi – Kurikulum Berbasis Ci...
MI Iskandar Sulaiman melaksanakan kegiatan SAHABAT KBC (Sistem Analisis Humanis Berbasis Transparansi – Kurikulum Berbasis Cinta) pada Sabtu, 17 Oktober 2026, pukul 09.00–10.00 WIB di ruang lab komputer gedung 1 MI Iskandar Sulaiman. Kegiatan ini menjadi salah satu langkah untuk mendukung penerapan pendidikan yang humanis, transparan, dan berlandaskan nilai-nilai cinta dalam lingkungan madrasah.
Kegiatan SAHABAT KBC merupakan upaya untuk membangun budaya pendidikan yang mengedepankan pendekatan humanis, keterbukaan, serta kepedulian terhadap kebutuhan dan perkembangan peserta didik. Melalui kegiatan ini, suara guru dan murid menjadi bagian penting dalam memahami kondisi pembelajaran serta mendukung terciptanya lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan menyenangkan.
Pelaksanaan kegiatan ini sejalan dengan semangat Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), yang menempatkan cinta, kasih sayang, penghargaan, dan kepedulian sebagai landasan dalam proses pendidikan. Dengan pendekatan tersebut, madrasah diharapkan tidak hanya menjadi tempat untuk memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang untuk menumbuhkan karakter, akhlak mulia, empati, dan sikap saling menghormati.
Guru dan Murid Berpartisipasi sebagai Responden
Dalam kegiatan SAHABAT KBC kali ini, MI Iskandar Sulaiman melibatkan dua guru dan sepuluh murid sebagai responden. Partisipasi mereka diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai pengalaman, pandangan, serta kebutuhan warga madrasah dalam mendukung proses pendidikan yang lebih baik.
Dua guru yang menjadi responden adalah:
- Solikah
- Salsabila Nurfadilah
Sementara itu, sepuluh murid yang turut menjadi responden dalam kegiatan ini adalah:
- Wahyu Indra Pramana
- M. Farhan Ilham Firdausi
- Ahmad Farul Maulana
- Pinandari Rajwa Miscella
- Mahuwa Syifa'ul Qolbu
- Mochammad Athalla Zhafra Arsyaditya
- Aretha Nathania Syua
- Muhammad Althaf Rahandika
- Aina Ma'rifah Adawiyah
- Ahmad Hanif Abbad
Keterlibatan guru dan murid sebagai responden menunjukkan pentingnya partisipasi berbagai unsur madrasah dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan. Guru memiliki peran dalam mendampingi dan membimbing peserta didik, sedangkan murid menjadi bagian penting yang perlu didengarkan agar proses pembelajaran semakin sesuai dengan kebutuhan mereka.
Membangun Budaya Pendidikan yang Humanis dan Transparan
Melalui Sistem Analisis Humanis Berbasis Transparansi, kegiatan SAHABAT KBC diharapkan dapat mendukung proses pemahaman dan evaluasi terhadap lingkungan pendidikan dengan mengedepankan keterbukaan, penghargaan terhadap setiap individu, serta perhatian terhadap pengalaman guru dan murid.
Pendekatan humanis mengingatkan bahwa setiap peserta didik memiliki karakter, potensi, dan kebutuhan yang berbeda. Oleh karena itu, proses pendidikan perlu dilaksanakan dengan penuh kesabaran, keteladanan, dan kasih sayang. Sementara itu, transparansi menjadi nilai penting dalam membangun komunikasi yang baik serta menumbuhkan kepercayaan di lingkungan madrasah.
Semangat tersebut selaras dengan Kurikulum Berbasis Cinta, yang mendorong terciptanya hubungan positif antara guru dan murid serta membangun suasana belajar yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan akhlak mulia.
Menumbuhkan Cinta dalam Setiap Proses Pendidikan
MI Iskandar Sulaiman berharap kegiatan SAHABAT KBC dapat menjadi bagian dari upaya berkelanjutan dalam menciptakan lingkungan madrasah yang ramah anak, inklusif, dan berorientasi pada perkembangan peserta didik secara menyeluruh.
Pendidikan yang berlandaskan cinta mengajarkan bahwa setiap anak berhak memperoleh perhatian, penghargaan, bimbingan, dan kesempatan untuk berkembang sesuai dengan potensinya. Dengan mengedepankan nilai-nilai tersebut, guru dan murid diharapkan dapat membangun hubungan yang harmonis serta menciptakan budaya belajar yang positif.
Kegiatan SAHABAT KBC yang dilaksanakan pada 17 Oktober 2026 ini menjadi momentum untuk memperkuat komitmen MI Iskandar Sulaiman dalam menghadirkan pendidikan yang humanis, transparan, dan penuh cinta.
Melalui sinergi antara guru, murid, dan seluruh warga madrasah, diharapkan Kurikulum Berbasis Cinta tidak hanya menjadi konsep, tetapi juga tercermin dalam sikap, perilaku, dan interaksi sehari-hari di lingkungan sekolah.







COMMENTS